Gambaran Penggunaan Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tuberkulosis Dewasa
Baca Juga..
- 239. Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Di Kota Medan
- 238. Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Komunikasi, Informasi, Dan Edukasi (KIE) Obat Dengan Resep Oleh Tenaga Farmasi Di Instalasi Farmasi
- 237. Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Pada Pasien Asma Oleh Apoteker Pada Sepuluh Apotek Di
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis merupakan masalah utama kesehatan masyarakat,
hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit
tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia
dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. WHO memperkirakan
setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar
140.000 karena penyakit ini. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000
penduduk Indonesia terdapat 122 penderita baru tuberkulosis paru BTA
(Basil Tahan Asam) positif. Penyakit tuberkulosis menyerang sebagian besar
kelompok usia kerja (15-50 tahun).
Tahun 1995-1998, cakupan penderita tuberkulosis dengan strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Short-course Chemotherapy) atau pengawasan
langsung menelan obat jangka pendek setiap hari baru mencapai 36% dengan
angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya
sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%,
karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap
di masa lalu, diduga telah menimbulkan kekebalan ganda kuman tuberkulosis
terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance (MDR)
(Anonim, 2002).
Penyebab utama tingginya prevalensi tuberkulosis di Indonesia ada tiga.
Pertama, penduduk Indonesia cukup besar jumlahnya dan kepadatan
penduduk yang cukup tinggi pada beberapa daerah, sehingga penyakit
tuberkulosis mudah menular. Kedua, pengobatannya cukup lama yaitu 6
bulan dengan biaya yang cukup mahal, sehingga banyak penderita yang tidak
menyelesaikan pengobatannya secara tuntas. Tingkat kedisiplinan penderita
tuberkulosis untuk minum obat anti tuberkulosis yang masih rendah, jadi
dibutuhkan pengawasan minum obat. Ketiga, Penyakit ini umumnya
menyerang orang-orang dengan status gizi buruk dan kurang, serta kondisi
fisik yang lemah (Anonim, 2004a).
Rumah Sakit Umum dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat
pelayanan kesehatan tentunya dapat melaksanakan semua kegiatan
tatalaksana penderita tuberkulosis dan pastinya menggunakan obat anti
tuberkulosis, yang nantinya obat tersebut akan dipadukan untuk memperoleh
hasil terapi yang baik dan mencegah atau memperkecil kemungkinan
timbulnya resistensi. Dalam hal tertentu, rumah sakit dapat merujuk penderita
kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal penderita untuk
mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya, agar terapi
menggunakan obat tersebut berhasil dan resikonya minimal, maka perlu
dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui penggunaan obat tuberkulosis
pada kasus tuberkulosis. Dalam penelitian kasus tuberkulosis ini rumah sakit
yang digunakan sebagai sampel adalah rumah sakit umum kabupaten Sragen,
yang nantinya akan diketahui apakah pengobatan untuk kasus tuberkulosis di
Rumah Sakit tersebut sudah sesuai dengan standar terapi yang ada.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan permasalahan :
PENDAHULUAN
Baca Juga..
- 237. Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Pada Pasien Asma Oleh Apoteker Pada Sepuluh Apotek Di
- Perbandingan Kepuasan Pelanggan Terhadap Kualitas Pelayanan Di Apotek Pendidikan Sanata Dharma Dan Apotek Non Pendidikan Panasea Yogyakarta
- 235. Kepuasan Pelanggan Terhadap Kualitas Pelayanan Apotek Berbintang Tiga Di Kecamatan Umbulharjo
- 239. Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Di Kota Medan
A. Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis merupakan masalah utama kesehatan masyarakat,
hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit
tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia
dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. WHO memperkirakan
setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar
140.000 karena penyakit ini. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000
penduduk Indonesia terdapat 122 penderita baru tuberkulosis paru BTA
(Basil Tahan Asam) positif. Penyakit tuberkulosis menyerang sebagian besar
kelompok usia kerja (15-50 tahun).
Tahun 1995-1998, cakupan penderita tuberkulosis dengan strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Short-course Chemotherapy) atau pengawasan
langsung menelan obat jangka pendek setiap hari baru mencapai 36% dengan
angka kesembuhan 87%. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya
sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%,
karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap
di masa lalu, diduga telah menimbulkan kekebalan ganda kuman tuberkulosis
terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance (MDR)
(Anonim, 2002).
Penyebab utama tingginya prevalensi tuberkulosis di Indonesia ada tiga.
Pertama, penduduk Indonesia cukup besar jumlahnya dan kepadatan
penduduk yang cukup tinggi pada beberapa daerah, sehingga penyakit
tuberkulosis mudah menular. Kedua, pengobatannya cukup lama yaitu 6
bulan dengan biaya yang cukup mahal, sehingga banyak penderita yang tidak
menyelesaikan pengobatannya secara tuntas. Tingkat kedisiplinan penderita
tuberkulosis untuk minum obat anti tuberkulosis yang masih rendah, jadi
dibutuhkan pengawasan minum obat. Ketiga, Penyakit ini umumnya
menyerang orang-orang dengan status gizi buruk dan kurang, serta kondisi
fisik yang lemah (Anonim, 2004a).
Rumah Sakit Umum dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat
pelayanan kesehatan tentunya dapat melaksanakan semua kegiatan
tatalaksana penderita tuberkulosis dan pastinya menggunakan obat anti
tuberkulosis, yang nantinya obat tersebut akan dipadukan untuk memperoleh
hasil terapi yang baik dan mencegah atau memperkecil kemungkinan
timbulnya resistensi. Dalam hal tertentu, rumah sakit dapat merujuk penderita
kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal penderita untuk
mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya, agar terapi
menggunakan obat tersebut berhasil dan resikonya minimal, maka perlu
dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui penggunaan obat tuberkulosis
pada kasus tuberkulosis. Dalam penelitian kasus tuberkulosis ini rumah sakit
yang digunakan sebagai sampel adalah rumah sakit umum kabupaten Sragen,
yang nantinya akan diketahui apakah pengobatan untuk kasus tuberkulosis di
Rumah Sakit tersebut sudah sesuai dengan standar terapi yang ada.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan permasalahan :
Tag Favorit : skripsi teknik informatika skripsi zakat mal Sejarah skripsi jaringan komputer Administrasi Publik skripsi evaluasi program Agama Islam skripsi 3 variabel manajemen bab i skripsi msdm Administrasi Niaga-Bisnis skripsi jual beli jabatan Free Download Skripsi skripsi variabel x dan y skripsi one piece skripsi t b paru 2015
Gambaran Penggunaan Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tuberkulosis Dewasa adalah yang barusan kamu baca.
PESAN SEKARANG Kumpulan Contoh Skripsi/Tesis bisa Request Sesuai Topik Judul yang di Butuhkan Caranya silahkan chat WA,
+GRATIS BANTUAN TEKNIS KONSULTASI DAN BIMBINGAN GARANSI LOLOS CEK PLAGIASI
,




Belum ada Komentar untuk "Gambaran Penggunaan Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tuberkulosis Dewasa"
Posting Komentar